Kamis, 27 Juli 2017

27.07.2017/13:49 wib

Langit tanpa awan
Itu hampa
Sama halnya seperti
Rindu yang memberatkan
Tanpa adanya tegur sapa

09.06.2017/10:58 wib

Menunggu dibatas jenuh
Seperti menyiakan tiap detik yang berputar
Keluar, berlari lalu menggelamkan kepala
Dingin, tenang dan cukup untuk menahan kesal ini
Sedikit mengurangi level jenuh yang ada
Tapi tak berjanji untuk menghilangkan seutuhnya

26.05.2017/10:19 wib

Naluri alam seakan tak enggan tumpul
Waktu tak abadi, kelak ia pun kan habis
Membuka halaman dan mengisinya
Terus dan lagi hingga menjelang akhir
Mungkin kau tak tahu kapan akhirnya
Tapi mungkin kau merada jika sudah akan mencapainya

13.04.2017/15:56

Menantimu bersuara
Laksana menunggu pelangi ditengah mendung
Sabar atau lelah kemudian berhenti
Adalah pilihan yang nyata dihidupku
Mampukah kau memberi isyarat untuk memudahkanku memilih
Jangan membuatku ragu wahai rinduku yang baru
Luka ini sudah kering untuk ikhlasku yang dulu
Percaya dan yakinlah jika niatmu benar
Tapi jika tidak, maka hentikanlah segera mungkin

08.03.2017/16:00 wib

Memandang birunya langit
Seketika terbayang wajah cerahmu
Merasa damainya hembusan angin
Seketika terbayang senyum manismu
Teduh, menenangkan seperti itulah makna dari tatapmu
Hei, calon insyaAllah imamku
Ku harap niat kita diluruskan karena Nya

31.01.2017/16:14 wib

Teduh matamu tergambar di retinaku
Senyum tipismu menebal di pikiranku
Wahai engkau calon imam permanenku
Menunggu siapa dirimu adalah tahap dengan kesabaran
Tahap dengan keyakinan yang entah meragu
Tahao yang membuatku menyadari indahnya sabar
Engkau mungkin tak terlalu merasa seperti diriku
Atau mungkin hanya kira ku saja
Mengharap engkau, menyebut engkau, hanya langkah itu yang ku bisa
Meyakini hati ini lagi dan lagi
Hingga satu jawaban yang indah dari Nya
Bahwa ya, kita memang jodoh

05.01.2017/14:15 wib

Menunggu bahagia
Menunggu sang bunga mekar
Menguning hingga memerah
Menghijau kemudian mengering
Hingga gugur dan bersemi kembali
Sampai dititik bayangan menjauh
Dan ku terbangun menyadari
Bahwa dirimu hanyalah bayang tertarik senja

Minggu, 05 Maret 2017

17.12.2016 /19:01 WIB



Hei.
Hanya kata itu lagi yang terucap
Disaat jantung ini penuh akan rindumu
Detik yang kulewati tanpamu sungguh banyak
Namun ku coba persingkat dengan mengubah menjadi tahun
Wahai rinduku yang belum menghalalkanku
Ku tak mengerti dengan nyata apa yang ku rasa
Wahai rinduku yang ku tau menyakitiku
Di hati ini sangat jujur masih menginginkanmu
Wahai rinduku yang tetap sama yaitu kamu
Menyentuh tanganmu ditiap pertemuan kita
Hanya hitungan detik yang terasa di peraba
Namun apakah kau tau bahagia yang terasa
Hanya satu harapanku untuk kita
Bahagia bersama dengan pilihan yang berbeda
Untukmu rinduku, yang ku sayangi  tanpa pamrih

17.12.2016 /16:29 WIB



Mendung menjanjikan hujan, katanya
Akankah pelangi akan datang dikemudian waktu
Ku rindu, dan itu nyata
Namun mulutku ini tertahan
Keluh dan kecewa masih terasa
Luka itu masih basah wahai rinduku
Ingin segera ku kukeringkan dengan lekasnya
Namun lagi, mendung itu menjanjikan hujan kembali

15.12.2016 /15:15 WIB



Bayangan mulai menghilang
Tertarik cahaya di ufuk barat
Nafas berirama berat melepas jarimu
Diujung ekor mataku hanya tinggal menghitung detik
Kau pergi, dan itu memang nyata
Jejak kakimu mungkin terhapus angin
Namun jejak kata dan sikapmu masih nyata di memori yang terbuat dengan canggih

08.12.2016 /16:05 WIB



Api membakar lekas mengabu
Merah menyala merusak sekitar
Padamkan ia segera mungkin kawan
Karena itu membahayakanmu
Kau butuh air atau angin kawan ?
Atau kau hanya diam dan berlalu ?

08.12.2016/ 15:45 WIB



Hujan setia dengan waktu
Menunggu diujung datangnya senja
Angin cemburu dengan halusnya
Mencoba mencari perhatianku dimatamu
Awan tertarik dengan pergerakan angin
Namun ku, tetap diam