Teduh matamu tergambar di retinaku
Senyum tipismu menebal di pikiranku
Wahai engkau calon imam permanenku
Menunggu siapa dirimu adalah tahap dengan kesabaran
Tahap dengan keyakinan yang entah meragu
Tahao yang membuatku menyadari indahnya sabar
Engkau mungkin tak terlalu merasa seperti diriku
Atau mungkin hanya kira ku saja
Mengharap engkau, menyebut engkau, hanya langkah itu yang ku bisa
Meyakini hati ini lagi dan lagi
Hingga satu jawaban yang indah dari Nya
Bahwa ya, kita memang jodoh